BIOGRAFI MBAH DACHLAN BAGIAN 1


Alhamdulillah.... Pada kesempatan yang baik ini, Allah masih memberikan kita berbagai macam kenikmatan yang tiada henti, sehingga kita bisa menjalankan kegiatan dan aktivitas kita masing-masing. Nikmat yang harus kita syukuri tidak hanya dengan ucapan semata tetapi harus disertai dengan tindakan dan tingkah laku yang diridhoi oleh-Nya. 

Pada tulisan kedua ini, kami akan menyampaikan informasi tentang biografi guru kita yaitu KH. Dachlan Salim Zarkasyi atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Mbah Dachlan. Biografi ini kami ambil dari buku "Pak Dachlan Pembaharu dan Bapak TK Al-Qur'an" yang disusun oleh Ustadz Abu Bakar Dachlan dan diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Al-Qur'an Raudhotul Mujawwidin Semarang. 

Secara khusus, tujuan kami mengangkat biografi Mbah Dachlan hanya ingin memberikan informasi kepada pengguna Qiroati yang sampai saat ini sudah lintas generasi, mulai dari Generasi Baby Boomers (1946 - 1964), Generasi X (1965 - 1980) hingga Generasi Alpha (2013 - 2024) maupun Generasi Beta (2025 - 2039) yang akan datang supaya mereka lebih mengenal Mbah Dachlan secara lebih dekat. Adapun tujuan umum agar pembaca dapat mengambil ilmu ataupun pelajaran dari biografi guru kita. 

Tanpa mengurangi rasa hormat, kami akan mengcopy ulang biografi Mbah Dachlan secara utuh tanpa mengurangi susunan kata maupun kalimat yang ada pada buku tersebut. Terbitnya informasi ini tentunya sudah mendapat ijin dari para guru kami Koordinator Qiroati Cabang Kudus yaitu KH. Ahmad Musta'in Yanis, AH (Amanah Metodologi) KH. Ahmad Ruslim, AH (Amanah Pentashih) Ustadz Ahmad Fadlli, M.Pd.I (Amanah Buku) Ustadz Sirotul Mustaghfirin, M.Pd (Amanah Sekretaris). 

Sembari membaca, jangan lupa sediakan kopi dan teman-temannya (jagung, kacang, dll) untuk menemani imajinasi dari narasi biografi ini. 

Bagian 1

DACHLAN KECIL

Menggembala Kambing

Dachlan Salim Zarkasyi lahir di Semarang, Tepatnya di Pekojan tanggal 28 Agustus 1928 anak ke 4 dari 12 bersaudara pasangan Salim Zarkasy dan Siti Rehana. Mereka adalah:

1. Luwiyah

2. Thohir

3. Ahmad

4. Dachlan

5. Makhrush

6. Ibrahim

7. Lilik Khoiriyah

8. Mariyatul Kibtiyah

9. Siti Bulqis

10. Abdullah

11. Abdul Manan

12. Abu Hanifah

Dari ke dua belas anak, hanya 4 anak yang sampai usia tua, yakni Luwiyah, Ahmad, Dachlan dan Abdullah. 

Dachlan Salim Zarkasyi di masa kecil seperti layaknya anak-anak seusianya. Ia bermain kelereng, layang-layang, gambar, gobak sodor, dan mainan tradisional pada umunya. Karena himpitan ekonomi, pindahlah keluarga Salim Zarkasyi dari Pekojan ke Jalan Karen Weh (Dr. Cipto). 

Apa yang dapat diandalkan bagi seorang kepala rumah tangga dengan banyak anak yang sehari-harinya mencari nafkah sebagai tukang cukur di bawah pohon asem yang rindang, sesekali pula sebagai tukang cuci pakaian. 

Suatu hari Dachlan disuruh orang tua untuk mengembala kambing di rumputan halaman Sri Wanito gedung pertunjukan wayang orang. 

Sambil menggembala, Dachlan bercengkerama dengan teman sebaya bermain dan bercanda, dan semakin meningginya sang surya Dachlan harus segera pulang menarik kedua ekor gembala kambingnya, selanjutnnya terjadilah sebuah tragedi yang tak pernah ia lupakan sepanjang hayatnya. 

Ditengah perjalanan pulang ke rumah, Dachlan kecil (6 th) dipanggil oleh beberapa tukang becak. 

"Le... le...., nek wedusmu pingin cepet lemu, komponen (maaf) silite!." Mengungkap salah satu tukang becak. (Le -panggilan familiar untuk anak lelaki Jawa atau Nak dalam bahasa Indonesia - jika kamu ingin kambingmu cepet gemuk maka pompalah duburnya!). 

Dengan polos dan lugu Dachlan mengikuti apa yang diminta si tukang becak. Benar, dengan waktu singkat perut kedua kambingnya membesar. Sesampai di rumah, tak lama kemudian kedua kambing tersebut diam, tertidur pulas, tak bergerak lagi alias mati. 

Tanpa merasa bersalah, ceritalah Dachlan kepada kedua orang tuanya, tentang mengapa kedua ekor kambingnya mati, kedua orang orang tuanya hanya tersenyum. 

"Dachlan ini pelajaran buat kamu, dan ingat, ulangi lagi." Pinta bapaknya. 


Masa Sekolah yang Sulit

Kota Semarang kian hari kian redup, gelam, suram, demikian sulit menjalani hari-hari kehidupan bagi penduduknya. Kegiatan perekonomian mengalami resesi, terengah-engah dalam kesukaran hidup, entah kapan akan bangkit. 

Hal ini merupakan efek dari keadaan dunia kecuali Hindia Belanda yang terkena krisis ekonomi, suatu masa yang dikenang para ekonom dengan sebutan masa melaise, sedang orang-orang pribumi karena kekurang fasihannya disebut dengan jaman meleset.

Tahun 1935 semua keluarga besar Salim Zarkasyi pindah, boyongan, bedol kampung pindah ke kota Yogyakarta untuk mengadu nasib. Mencari kehidupan yang lebih layak sebagai rasa tanggung jawab Bapak terhadap keluarga.

Usia 7 tahun memulai babak baru bagi Dachlan. la mulai sekolah di SR (sekolah rakyat) di Suryodinatan. Sekolahnya tidak berlangsung lama karena hampir setiap tahun berpindah tempat. Tempat tinggal di mulai di Jl. Suryo Taruna, setahun kemudian pindah ke Jalan Dagen, dan pindah ke tiga sekali lagi di Jl. Ngowongan Lor (stasiun dekat). Dengan seringnya berpindah tempat tinggal membuat Dachlan hanya sempat bersekolah hingga kelas 4 SR, barangkali yang lebih tepat karena himpitan ekonomi.

Tinggal di kota orang, ternyata tidak membuat betah keluarga Salim Zarkasyi. Tepatnya pada bulan Maret 1940 seluruh keluarga besar Salim Zarkasyi pulang kampung ke kota Semarang bersamaan dengan datangnya Jepang di Indonesia.


Catatan: Biografi ini kami ambil dari buku "Pak Dachlan Pembaharu dan Bapak TK Al-Qur'an" yang disusun oleh Ustadz Abu Bakar Dachlan dan diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Al-Qur'an Raudhotul Mujawwidin Semarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH DAN PERJALANAN MAJELIS HUFFADZ QIROATI CABANG KUDUS

Demi Kemaslahatan, Qiroati Cabang Kudus Serahkan Sertifikat Tanah dari Muwaqif ke DKP

Pembuka Peringatan Haul KH. Sya'roni Ahmadi, Qiroati Cabang Kudus Tabarrukan ke Maqbaroh Ulama Kharismatik Tersebut