BIOGRAFI MBAH DACHLAN BAGIAN 2
Bagian 2
HILANGNYA MASA REMAJA BEKERJA DI BAWAH TEKANAN
Keranjang Ikan
Tahun 1940 Jepang menginjakkan kaki kolonialismenya di bumi Nusantara. Jepang berdiri kokoh di bumi persada, seperti kokohnya pohon kelapa yang ditiup angin di pantai laut Jawa.
Masa remaja yang biasanya ditandai dengan romantisme tampaknya tidak berlaku bagi Dachlan. Masa remaja yang penuh dengan gejolak, tak ia jalani dengan suka cita. Tapi justru sebaliknya masa-masa yang indah tercerabut, tercabik-cabik, karena rutinitas yang tak dapat ia elakkan.
Pagi, siang, dan malam Dachlan kapal bekerja sebagai tukang cuci piring di atas Jepang mengarungi lautan lepas, mengelilingi pulau-pulau Nusantara. Sesekali tangan-tangan kokoh dan kasar hinggap di pipi kanan Dachlan, meskipun kesalahan dilakukan oleh teman lain Jepang tak pernah mau tahu, bila seorang "melayu"
melakukan salah semuanya kena mencetak bahkan tendangan tak kecuali Dachlan.
Suatu hari angin begitu kencang, alam lagi tak bersahabat. Kapal mulai oleng tak tentu arah. Tangan-tangan besar dan kokoh tak mampu lagi mengendalikan layar, lebih dari satu jam ombak menunjukkan keperkasaannya. Lambung kanan dan kiri dihantam ombak yang menggunung, keganasan alam tak kenal pilih kapal apa dan siapa kapal.
Dengan kecerdasan dan ketajaman berfikir (sebagai anugerah Allah SWT) Dachlan mampu mengendalikan layar, tentu tidak dengan tangannya, karena Dachlan terlalu percaya, tangannya tak mampu menarik tambang-tambang besar, yang Dachlan lakukan hanya memberi komando. "Pak No, coba tarik ke selatan, Pak Tabir tarik ke arah barat sedikit" teriak Dachlan dengan suara meninggi.
Dari perbincangan, mata Pak Jais (mandor kapal) mengamati dengan penuh perhatian, segala gerakan gerik remaja kurus itu. Tak ayal, akhirnya Pak Jais jatuh hati, merasa sayang, iba, bangga dan kagum. Mulai hari itu Dachlan naik pangkat dari pencuci piring kapal menjadi tukang ikat tali (jika hendak bersandar di dermaga), namun begitu, pekerjaan lebih berat karena berhadapan langsung dengan ombak yang terkadang begitu ganas. Jika kapal telah berlayar sejauh mata memandang segala sesuatu di udara dari segala penjuru. Sengatan matahari dan dinginnya angin malam tak dihiraukan, dinginnya malam sampai menusuk tulang sumsum seakan tinggal di ujung dunia, Kutub Selatan.
Hari-hari mengarungi begitu keras, kasar, dan terkadang bengis. Pada suatu hari Joko petugas cuci piring memecahkan sebuah cangkir, semua pekerja kapal terkena marah, dipukul dan ditampar tanpa ampun, kali ini Dachlan terhindar dari pukulan atau penghasilan karena Dachlan disembunyikan ke dalam keranjang ikan oleh Pak Jais.
Di kapal hukum di pegang oleh hosino (penguasa kapal), hosinolah
sebagai polisi, jaksa, sekaligus hakim yang akan menjatuhkan vonis kesalahan yang dilakukan oleh awak kapal, awak kapal dianggap manusia super yang tidak boleh melakukan kesalahan. Human error perkara haram yang boleh terjadi, apalagi tindak kriminal. Bila ada seorang melayu mencuri dan diketahui oleh hosino maka orang tersebut dimasukkan ke dalam keranjang ikan dan diikat dengan tambang lalu diceburkan ke laut sambil ditarik kapal, bila orang tersebut telah mati dibuang ke laut.
Selama bekerja di kapal semua orang melayu diberi makan jagung dengan besek sebagai piringnya.
Di Semarang semua rumah yang pagarnya terbuat dari besi akan dibongkar secara paksa dan diambil kecuali rumah ibadah.
Semua pekerjaan menggunakan absen pakai nomor yang terbuat dari seng dan ditempel di atas kayu terus memberi hormat, bila orang tidak memberi hormat ditampar dan dijegal.
Ah... terasa sudah dua tahun lamanya Dachlan mengarungi laut Jawa dan dengan tumbangnya Jepang oleh sekutu, maka kehidupan yang keras di laut lepas pun ikut pergi bersama hengkangnya Jepang dari Indonesia
Mengasong
Nampaknya kegetiran hidup tak bisa lepas dari diri Dachlan, lepas dari ganasnya lautan, keganasan mulai jalanan ia jalani, ia tapaki. Di usia ke-12, Dachlan mulai mengasong hilir-mudik ke sana ke mari masuk kampung ke luar kampung semua lorong masuk, ia tapaki dari satu desa ke desa lainnya.
Tiap pagi, selepas solat Subuh Dachlan memikul dagangannya tak lupa dengan seragam topi lusuh kesayangannya, sebagai penangkal terik matahari. Bila rasa lelah mulai terasa, Dachlan mencari musolla untuk bersantai sejenak melepaskan rasa lelah.
Sehabis solat Dhuhur tak lupa Dachlan mengisi air ke dalam botol sebagai persediaan minum pada perjalanan berikutnya, guna membasahi kerongkongan bila terasa mulai kering. Beban pundaknya kian terasa berat manakala matahari mulai condong ke barat.
Kedua pundaknya yang bidangnya dapat berbicara sebagai saksi, bahwa tiap hari ia (pundaknya) dibebani dengan ember, siwur benang, tali ijuk, jarum jahit, peniti, sapu, sisir, jepit rambut, kapur barus dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.
Hari itu, perutnya mulai terasa melilit, pertanda minta segera terisi sedangkan dagangannya belum ada yang laku. Dengan perasaan malu dan terpaksa karena tuntutan perut Dachlan memberanikan diri untuk hutang, guna membeli sebuah ubi rebus sebagai penganjal perut.
Kacang Rebus
Menginjak usia remaja, 13 (tiga belas) tahun Dachlan bekerja, membantu kakak iparnya berdagang. Hari demi hari, bulan berganti bulan, ia jalani dengan penuh kesabaran dan ketekunan, tiap pagi dan sore Dachlan membuka dan menutup toko. la layani pembeli dengan sepenuh hati, karena ia sadar bahwa pembeli itu raja dan ia tahu diri bahwa ia pelayan toko.
Meskipun demikian, Dachlan sebagai manusia tetap menjadi manusia, remaja, dan anak-anak. Memunyai keinginan layaknya manusia dan tak bisa ia kesampingkan. Suatu ketika Dachlan berkeinginan untuk menonton dan merasakan kacang rebus, dan sepertinya keinginan untuk menonton kenikmatan kacang rebusnya akan tercapai tuntas.
Suatu hari Dachlan remaja diminta untuk mengambil uang dari laci dan disuruh membelikan kakak iparnya kacang rebus, Dachlan pun mengangkutnya. Aroma nikmatnya kacang tercium, begitu kacang diberikan ke yang berhak, alih-alih berbagi untuk bersama-sama menikmati lezatnya kacang rebus yang ditawarkan sendiri pun tidak. Ada kekecewaan yang mendalam dan begitu berbekas atas peristiwa tersebut, rasanya ingin menangis tapi ketegasan dan menolak kesewenang-wenangan lebih menguasai perasaannya.
Selepas sholat Maghrib, Dachlan menuturkan kepada kedua orang tuanya. “Saya sudah berketetapan hati, insya Allah mulai esok Dachlan tidak bekerja lagi dengan nah Woh (nah = abang)”. Panggilan akrab kakak ipamya.
Pengantar Makanan
Dachlan gelisah, risau, jantung berontak. Tak dapat berdiam diri, apa lagi berpangku tangan. Menganggur bukan jiwa. la bekerja lagi dengan pamannya (adik Ibu) Woh Dji . Sebagai penjaga toko selai. Setiap siang sebelum Dhuhur Dachlan berjalan kaki melewati lorong-lorong untuk menghindari sengatan matahari di siang hari bolong dari pasar Johar ke rumah pamannya di kampung Pandean untuk mengambil satu rantang makan siang untuk Paman dan anak-anaknya.
Rutinitas pekerjaan ini ia lakukan dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa dan raga secara totalitas. Hingga terbilang bulan. Demi satu doa menjaga ringgit.
Suatu malam, anugrah menghampiri Dachlan. Dachlan diajak Woh Dji untuk makan malam, bersama seluruh keluarga besar di kediamannya Kampung Pandean. Setelah berbicara dan bersenda gurau sejenak, tibalah santap malam, dimulai dengan berdo'a bersama.
Orang tua dan orang yang lebih tua diperkenankan untuk mengambil lebih dulu. Nasi, lauk, sayur tak kecuali sambal dan lalap. Setelah itu anak-anaknya termasuk Dachlan, sambil urut kacang sesuai umur.
Tibalah giliran Dachlan. Begitu tangan menggapai entong (sendok nasi), pipi dan telinga Dachlan memerah seperti tersengat matahari di siang hari bolong. Betapa tidak. Teguran Woh Dji agar Dachlan mengambil nasi pada giliran terakhir.
Selera makanpun hilang. Makanan menjadi hambar. Seakan nasi tak mampu melewati anak tekaknya.
Dalam hati, Dachlan ingin segera meninggalkan arena jamuan makan yang memuakkan. Tapi ia dengan sabar mencoba meneruskan makanannya. Sesekali ia minum air untuk melancarkan nasi yang tersumbat di tenggorokannya. Dachlan berusaha untuk tetap tenang meskipun kakinya bergetar.
Muadzin mengumandangkan azan, pertanda waktu Isya' sudah tiba. Kesempatan ini tidak sia-sia. la segera meminta izin kepada paman dan orang-orang yang hadir pada jamuan makan. Sambil mengucap salam, Dachlan segera keluar rumah. la merasa degup jantungnya berdebar tak beraturan, seakan menyesakkan dada.
Dalam perjalanan pulang, Ia beristighfar lalu berkata dalam hati.
Ya Allah, masalahku semakin menumpuk, aku tidak sanggup menanggungnya. Ya Allah, berikanlah aku kesabaran, keteguhan hati, mudahkanlah aku untuk melewati hari-hari yang semakin sulit ini. Hanya kepada-Mu aku berserah diri”.
Sarung Bekas
Hijrah suatu keniscayaan. Kota pahlawan sebagai tujuannya. Tawaran pamannya yang tinggal di Surabaya untuk ikut membantu membuat kembang ia sambar, ia iyakan tanpa berpikir panjang, yang ada dalam pikiran hanya satu.
"Aku harus bekerja."
Memang, Allah SWT memberikan anugrah kepada Dachlan begitu banyak, begitu beragam keterampilan yang ia kuasai, salah satunya adalah merangkai bunga.
Duduk bersila di kursi kecil, tangan mulai menari. Kertas krip berwarna-warni ia lilitkan pada lidi panjang. Satu, dua, bahkan berpuluh hingga beratus batang lidi telah ia selesaikan dengan jari itu.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, berjajar bunga mawar, bunga tulip, dan berbagai jenis bunga yang lain, di atas dipan panjang.
Siang itu, peluh mulai mengucur dari tubuhnya butiran-butiran peluh bak mutiara berjatuhan dari dahi dan pipinya. Karena hawa panas kompor tak mampu menyeruak ke luar ruang dapur yang sempit.
Pembuatan kembang kertas memasuki babak akhir. Bunga-bunga beraneka ragam warna, bentuk dan ukuran mulai dimasukkan satu persatu ke dalam lilin yang mendidih, sesaat kemudian, bunga-bunga itu diangkat dan dimasukkan ke dalam panci besar penuh berisi air dingin jadilah bunga kertas.
Nampaknya, profesi produsen yang diemban Dachlan selama ini belum cukup di mata Ami Hamid. Pemasaran dibebankan ke bahu Dachlan. Setiap dua minggu sekali Dachlan keliling kampung untuk menjajakan bunga hasil pruduksinya. Di kesempatan lain, bunga-bunga itu dititipkan di toko-toko di sekitar Surabaya.
Matahari mulai condong ke barat, pertanda hari kian gelap. Berggaslah Dachlan untuk mandi untuk menunaikan panggilan illaahi Rabbi. Sesaat sebelum menunaikan sholat Maghrib di surau dilaksanakan, Ami Hamid menemukan.
Dachlan, coba sarung ini kau pakai untuk shalat Maghrib. pinta Ami Hamid.
Perasaan Bangga dan ukuran terlihat di wajahnya, seolah tak tahan untuk segera memakainya.
Menjelang tidur, istri pamannya memanggil.
Dachlan, sarung yang kau pakai punya siapa?.
"Sarung ini diberi Ami Hamid." jawab Dachlan singkat dan datar.
"Kembalikan aku!, sarung ini dipakai masih pamanmu." pintanya dengan ketus.
“Ya Allah, kenapa nasibku begini, hatiku terasa diiris sembilu.” gumamnya dalam hati. Sarung bekas saja masih diminta.
Malam itu, Dachlan berkemas-kemas. Semua barang miliknya dimasukkan ke dalam kardus. Esok, ba'da sholat Subuh Dachlan pamit untuk minta pulang ke Semarang.
Dalam bus yang ia tumpangi, ia berujar...
“Lebih baik aku bekerja jadi tukang sapu jalanan dari pada bekerja dengan saudara. Ya Allah, kenapa tak berjeda antara bahagia dan nestapa”.

Komentar
Posting Komentar